Aku yakin, kaca rumah bagian depan, samping kiri itu bolongnya bukan ditabrak burung hantu atau kuntilanak yang nyasar. Namun aku tak habis pikir kenapa satu dari bangsamu dari balik kaca bolong itu seakan mengintai aku?
Bolongnya kaca itu (tinggal kusen dan lar) karena beberapa waktu lalu pecah kena benturan buah kelapa yang terjatuh dari pohonnya, beberapa meter dari samping rumahku yang masih paggung.
Di depan rumah tampak jalan desa, berukuran lebar 2 meter. Jalan berbatu itu tampak penuh rumput karena belum tersentuh kendaraan. Setahu saya jalan yang memanjang Timur-Barat yang menghubungkan antar dusun di desa itu tak pernah dilewati satu mobil pun, bahkan sepeda motor pun jika kebetulan ada paling setahun sekali saat lebaran. Dusun Nagrog kala itu memang masih sepi, terlebih di lingkungan blok yang saya tinggali bersama keluarga. Berada di kerendahan, mungkin cuma beberapa meter dibawah permukaan laut. Dihuni tak lebih dari tiga keluarga, tiga rumah panggung berbilik bambu. Dikelilingi bukit-bukit dengan pohon-pohon tinggi yang rimbun. Di kaki bukit bagian Timur sekira 150 meter dari rumahku ada pasarean (tempat pemakaman warga).
Jika musim penghujan air yang turun dari beberapa bukit itu kerap membanjir ke pekarangan, ke kolong rumah dan bahkan sering meredam tungku dapur. Jika musim begini rasanya ngeri dan merasa terkungkung dalam sunyi, terlebih jika malam tiba. Alkisah, saat musim penghujan datang dan kerap berakhir dengan hujan merintik. Seperti biasa, saat-saat seperti tu aku (yang masih bujang kala itu) jarang keluar rumah.
Namun malam itu tak duduk di kursi, melainkan ketiduran di selasar (lantai beranyam kulit bambu).
Di tengah rintik hujan, antara sadar dan tidak aku mendengar suara langkah kaki yang datangnya dari arah Timur. Suara itu tampak jelas ketika kuping saya merapat rekat ke selasar bambu yang bolong-bolong ke kolong dimana di dalam kolong itu tampak masih ada air mengalir.
Kecuprak....Kecupraak....!, demikianlah. Aku dengar suara langkah bak kaki besar itu kian mendekati rumahku. Langkah siapa, batinku bertanya. Pasti bukan langkah manusia, sebab mana ada langkah kaki di kecipak air hujan yang suaranya begitu keras. Namun untuk sementara aku diam, dalam ketakutan aku memejamkan mata. Keringat di musim dingin pun sampai bisa keluar. Saat itu aku berbaring mengarah kepala ke utara. Kucupraak....! Kucupraakk...! Suara yang bak mengenakan sendal jepit berukuran raksasa terhambat air hujan itu tiba-tiba terdengar di samping utara rumahku. Tepatnya kira-kira 2 meter kurang dari kepalaku yang terbaring.
Lantas langkah itu melingkar sedikit ke arah selatan. Naluriku mengatakan seseorang akan menemuiku. Maka, karenanya, dengan berat hati akhirnya aku menoleh juga ke arah itu. Ya Allah, siapakah dia? Sosok putih berbulu, berjenggot tampak memenuhi lar kusen tanpa kaca itu. Dalam takut mencekam, kendati tak ingat apa wajah itu melotot atau tidak, seraya berteriak aku setengah meloncat mendobrak pintu ke tengah rumah. Hingga palang pintu dari dalam terbanting mengenai tubuh kedua orang tuaku yang tengah tertidur pulas (*)
Bolongnya kaca itu (tinggal kusen dan lar) karena beberapa waktu lalu pecah kena benturan buah kelapa yang terjatuh dari pohonnya, beberapa meter dari samping rumahku yang masih paggung.
Di depan rumah tampak jalan desa, berukuran lebar 2 meter. Jalan berbatu itu tampak penuh rumput karena belum tersentuh kendaraan. Setahu saya jalan yang memanjang Timur-Barat yang menghubungkan antar dusun di desa itu tak pernah dilewati satu mobil pun, bahkan sepeda motor pun jika kebetulan ada paling setahun sekali saat lebaran. Dusun Nagrog kala itu memang masih sepi, terlebih di lingkungan blok yang saya tinggali bersama keluarga. Berada di kerendahan, mungkin cuma beberapa meter dibawah permukaan laut. Dihuni tak lebih dari tiga keluarga, tiga rumah panggung berbilik bambu. Dikelilingi bukit-bukit dengan pohon-pohon tinggi yang rimbun. Di kaki bukit bagian Timur sekira 150 meter dari rumahku ada pasarean (tempat pemakaman warga).
Jika musim penghujan air yang turun dari beberapa bukit itu kerap membanjir ke pekarangan, ke kolong rumah dan bahkan sering meredam tungku dapur. Jika musim begini rasanya ngeri dan merasa terkungkung dalam sunyi, terlebih jika malam tiba. Alkisah, saat musim penghujan datang dan kerap berakhir dengan hujan merintik. Seperti biasa, saat-saat seperti tu aku (yang masih bujang kala itu) jarang keluar rumah.
Namun malam itu tak duduk di kursi, melainkan ketiduran di selasar (lantai beranyam kulit bambu).
Di tengah rintik hujan, antara sadar dan tidak aku mendengar suara langkah kaki yang datangnya dari arah Timur. Suara itu tampak jelas ketika kuping saya merapat rekat ke selasar bambu yang bolong-bolong ke kolong dimana di dalam kolong itu tampak masih ada air mengalir.
Kecuprak....Kecupraak....!, demikianlah. Aku dengar suara langkah bak kaki besar itu kian mendekati rumahku. Langkah siapa, batinku bertanya. Pasti bukan langkah manusia, sebab mana ada langkah kaki di kecipak air hujan yang suaranya begitu keras. Namun untuk sementara aku diam, dalam ketakutan aku memejamkan mata. Keringat di musim dingin pun sampai bisa keluar. Saat itu aku berbaring mengarah kepala ke utara. Kucupraak....! Kucupraakk...! Suara yang bak mengenakan sendal jepit berukuran raksasa terhambat air hujan itu tiba-tiba terdengar di samping utara rumahku. Tepatnya kira-kira 2 meter kurang dari kepalaku yang terbaring.
Lantas langkah itu melingkar sedikit ke arah selatan. Naluriku mengatakan seseorang akan menemuiku. Maka, karenanya, dengan berat hati akhirnya aku menoleh juga ke arah itu. Ya Allah, siapakah dia? Sosok putih berbulu, berjenggot tampak memenuhi lar kusen tanpa kaca itu. Dalam takut mencekam, kendati tak ingat apa wajah itu melotot atau tidak, seraya berteriak aku setengah meloncat mendobrak pintu ke tengah rumah. Hingga palang pintu dari dalam terbanting mengenai tubuh kedua orang tuaku yang tengah tertidur pulas (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar