Sabtu, 11 Juni 2016

Saung Lapang



      Cerpen: Otang K.Baddy (Banjarmasin Post 5 Juni 2016)

      Areal sawah tadah hujan tepi jalan desa itu kini tampak terbengkalai. Pematang-pematang yang kokoh sebelumnya kerap dihiasi jenis kacang, timun dan tanamanya lainnya termasuk umbi kini tampak lenyap tergerus waktu. Warga tani, termasuk saya, sudah lama meninggalkan tanah garapan itu dan berpindah mengolah tanah lain di seputar Markutang, desa tercinta kami. Lahan yang sempat
menghasilkan padi dan sebagian sayur-mayur itu kini telah jadi lahan pencari rumput dan main bola anak-anak.
      Yang tak bisa disangkal, area itu kini jadi milik desa.  Tepatnya setelah di era brobrok lalu tanah desa tepi pantai di Markutang dijual ke pihak asing dan lokasi ini sebagai gantinya dengan cara paksa membeli pada rakyat seharga 5000 perak pertumbak. Tak ada  protes karena konon tindakan itu demi kemajuan desa juga. Dan warga masih bisa menggarapnya, baik tanah milik asal ataupun tanah lain yang tak digarap pemilik semula. Dengan cara sewa pertahun/blok sekian perak. Namun ketika perjanjian dilanggar, yakni sewa tanah yang mendadak 3-4 kali lipat lebih mahal, warga menjadi malas. Selain itu kelestarian pun menjadi tak terjamin, tak sedikit penjarahan jelang panen sering terjadi. Mungkin karena lokasinya jauh dari rumah penduduk.
       Yang masih tersisa di situ cuma saung 2x3 meter, beratap nipah, yang dulu dibuat oleh Karjo  saat menggarap tanah itu. Karena lama ditinggal oleh Karjo, mereka menyebutnya ‘saung lapang’. Mungkin di samping merasa lapang atau nyaman bagi pengunjungnya juga karena memang dekat dengan lapang yang kerap dipakai main bola anak-anak itu.
       ***
       Jam 8 malam. Perjalanan saya dan Karjo sedikit terganggu ketika ditemui dua orang bermotor. Mereka tampak beradu saling berlawanan, satu lelaki dari arah kami, satu perempuan dari arah depan. Seakan ngomong asyik dan tergertak perempuan itu segera memutar motornya dan langsung melaju di depan kami, sementara si lelaki berkacamata hitam memandangnya dibalik keremangan bulan sabit. Perempuan berhelm itu motornya seakan merayap dan ringkih, hingga tak sengaja tersalip motor kami.
       Apa yang hendak dilakukan mereka di tengah suasana sepi malam-malam seperti itu, kami berdua sudah dapat  menduganya.  Tapi kami tak sudi menoleh ke belakang, kendati yakin bahwa perempuan itu pasti kembali ke pangkuan lelaki tadi. Dan tak mustahil mereka nantinya pergi ke saung buatan Karjo itu.
     “Apa kamu bawa golok?"
     "Golok buat apa? Tidak."
     "Kita kembali lagi yu?"
     "Kembali kemana, kan mau nemui Pak Kades."
     Motor yang dikendari Karjo terus melaju ke arah timur. Kadang terantuk ketika menyentuh aspal berlubang. Sementara Karjo terus beruring, "Kalau di sekitar pantai sih bisa dikata wajar, ini kan masih di kampung kita."
     "Iya," kata saya. Dalam perjalanan yang tak lebih 2 km jelang rumah Kades itu, kami bak terjebak dalam latihan sandiwara yang menjanjikan.
     "Memangnya kami golongan orang bodoh yang dapat terkecoh dengan akting murahan itu?" gertak Karjo dalam bayanganya sebagai pemegang wilayah. Sementara saya hanya nyengir di boncengannya ketika tangan kiri Karjo melepas stang dan telunjuknya menuding-nuding pagar di tepi jalan. "Saya tahu kamu berdua adalah para penghianat atas keluarga sendiri. Punya anak dan istri, punya suami," katanya. Seraya mehanan tawa, saya mengangkat jempol ke mukanya.
        "Ini juga masalah etika. Bisa saja kamu menyelamatkan kampungmu, tanah moyangmu. Namun kalian tak menghormati daerah kami. lingkungan kami, tanah leluhur kami yang selama ini telah terjaga dengan baik. Tapi kalian tega mengotorinya.”
       Dalam bayangan itu dibuat lelaki buaya itu tak berkutik. Terlebih setelah Karjo memainkan goloknya yang mengkilat di awang-awang pas dekat muka lelaki di saung itu.  Sementara perempuan yang kancing bajunya tampak rontok dua biji itu pura-pura tertidur di sampingnya.
     "Hei bandot, kami tak akan mengusik ulah nircamu jika saja mau ngerti apa yang kami butuhkan!" Sebelum terbayang lelaki itu merogoh dompet, skenario itu terputus manakala kami keburu sampai di rumah Eko --Kadesnya Markutang, kades yang terbilang bijak itu.
      Kami menemuinya hendak membicarakan area tanah yang terbengkalai itu agar digarap kembali oleh warga dengan sewa murah tanpa goyah. Terkait keamanan, biarlah dengan sistem ronda secara bergilir. Dan ide itu telah disepakati sebelumnya. Kedatangan kami cuma ingin menanyakan soal waktunya mulai kapan. Namun pembicaraan itu urung, sebab ia tak ada di rumah. Menurut Ibu Kades, beberapa saat lalu Kang Eko malah pamitan hendak menemui saya.
      Dengan alasan hendak membersihkan kayu tumbang di jalan, sebelum pamit pribumi rela meminjamkan goloknya yang tajam. Seraya tertawa ngakak, kami pun bertolak secepatnya hendak mengunjungi saung itu. Terbayang dari ancaman itu kami akan mendapat masukan. Tak sampai nominal juta pun uang jaminan itu kami terima dengan wajah dibuat seram.
      Namun sekenario yang dianggap matang itu gagal ketika diketahui lelaki berkacamata hitam itu tak lain adalah seorang yang barusan goloknya kami pinjam.(*)

Tidak ada komentar:

Popular Posts

Blogroll