Tampilkan postingan dengan label Cerpen Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Media. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2019

Hadiah Hoaks


       Cerpen Otang K Baddy (Pikiran Rakyat Minggu 13 Oktober 2019)
      
    Seiring gejolak politik yang biasa dikatakan memanas, hoak kerapkali menjadi kambing hitam bagi yang merasa tersudutkan. Karena itu tergantung keberuntung, hoak pun dalam sesi ini kadang diperlukan. Meski kadang seperti dagelan.

Rabu, 25 Oktober 2017

Semarak Pesta Malam Perbukitan

Cerpen: Otang K.Baddy (Kabar Priangan 29 Agustus 2012)     

      
  MUNGKIN orang-orang dalam goa tak tahu kisah apa yang tengah terjadi di luar sana. Apakah keresahan, caci-maki, mual-mual, ataukah sebuah protes? Jika mau menjawabnya tentu akan menyebut, tidak! Sebab suasana di luar goa tak sekedar aman dan terkendali, melainkan penuh kesenangan tiada tara.

Minggu, 18 Juni 2017

Menjadi Maling

Cerpen: Otang K.Baddy (Radar Surabaya, Minggu 18 Juni 2017)
 
SEKETIKA suara-suara umpatan; maling, anjing, babi, dan bahkan mengharuskanku sampai di neraka jahanam itu, melenyap. Seiring dengan kepuasannya, mereka membubarkan diri dan mungkin pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara beberapa wanita tampak saling berbisik dan membuang muka. Mereka menampakan kengerian, bukan lebih pada kepuasan dan kegemasan seperti orang-orang sebelumnya.

Rabu, 22 Maret 2017

Perburuan Malam Perbukitan


Cerpen Otang K.Baddy (Pikiran Rakyat 22 September 2013)
Setelah semuanya merasa sakit dengan gigitannya, lalu mereka membuang pentungan kayu dan meletakan senjata lainnya yang semula niat perang. Ini bukan mimpi, sungguh, ini suatu kenyataan!, bisik mereka. Makanya, mari

Selasa, 21 Maret 2017

Pesan Diw



 Cerpen: Otang K.Baddy (Tribun Jabar 19 Maret 2017)


      Sebenarnya di dunia ini tak ada yang samar dan tersembunyi selain hanyalah kebodohan dan kemalasan yang membuat berserah diri, demikianlah istri saya berfilsafat. Wualah,  ngomong apa kamu ini, Diw.  Mau sok filsuf, ijazah saja masih dipertanyakan. Kendati mungkin hoaxs  istri saya layak diperbimbangkan, saya lipat dulu. Kemudian bertolak ke sesi yang baru dengan nuansa yang eksotis.  Yakni wanita yang tiba-tiba hadir  melibas istri yang

Sabtu, 11 Maret 2017

Kegelapan Laknat

Cerpen Otang K.Baddy (Harian Waktu 10 Maret 2017)


Ia memang  lelaki seperti malam gelap. Menggulita dalam mendung pekat.  Legam melebihi arang yang dikubur di kedalaman goa dalam suasana malam gerimis. Tepatnya seribu gumpal kegelapan, kepekatan dan kelegaman tanpa banding untuk menandingi kehidupan singgasana yang maha gelap.
        “Gelap, pekat...!” teriaknya sesak dan serak.

Rabu, 22 Februari 2017

Pisau

Cerpen Otang K.Baddy (Pikitan Rakyat 15 Desenber 2013)



     Sebagai pengemban amarah, yang kerap tertawa dan bersorak jika dalam kemenangan. Menjerit bak tersengat bara api sebelum kemudian menguap jika dalam kekalahan, selayaknya kau tetap aku perangi. sebab kamu ini telah jadi musuh nyataku!

Senin, 30 Januari 2017

Manusia Berbulu

       Cerpen: Otang K.Baddy ( Pikiran Rakyat 20 Januari 2013)


        Sebagai manusia berbulu, tak sepatutnya kamu menaruh dendam padaku. Kendati demi keimanan boleh lapar atau demi kehormatan boleh miskin, namun istilah itu tak kena jika kamu terapkan. Malah teramat janggal. Sebab iman dan hormat pun kamu sudah tak punya.
        Makanya jangan macam-macam.

Jumat, 27 Januari 2017

Parang



     
Cerpen Otang K.Baddy (Pikiran Rakyat 11 November 2012)


      Ternyata kamu pun jadi menyukai yang namanya parang. Bahkan kamu mengenalnya lebih jauh ketimbang aku seorang petani, perambah hutan. Misal jika gagang parang itu rusak, kamu segera menggantinya dengan kayu pilihan. Nyaris tak percaya ketika malam menjelang tidur, atau bangun sebelum fajar, suara khas bak tukang mebel kreatif terdengar jelas dari luar. Bunyi gergaji,

Rabu, 18 Januari 2017

Karma

KARMA (Cerpen: Otang K.Baddy /Merapi 17 Pebruari 2013)

     Wak Haji tampak gemetar. Bercerita, bahwa di pagi hari ia tiba-tiba mendengar kabar kematian dirinya. “ Haji telah mati…Haji telah matii..!” begitulah yang keluar dari mulut orang-orang di luar. Bahkan di pengeras suara yang berasal dari masjid-masjid di kampung itu.
      Kendati ada kejanggalan alias tak lazim, yakni pada berita itu tak ada ucapan ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi

Selasa, 17 Januari 2017

Kampung Toke

Cerpen Otang K.Baddy ( Pikiran Rakyat 9 Juni 2013)
      Entah kenapa tiba-tiba kampung itu dijuluki kampung toke. Aku tak tahu pasti selain hanya menggangguk atau mengiyakan jika seseorang bertanya di mana tepatnya aku tinggal. “Oh, dari Kampung Tokek itu ya?” demikianlah orang di luar desa atau bahkan sampai di luar kabupten menyebut nama lain

Senin, 28 November 2016

Kematian Wa Haji Edi

 
                                                   foto/illustrasi dari internet    
      Entah kenapa kematian Wak Edi tiba-tiba jadi buah bibir. Di warung-warung , di setiap depan rumah, di persimpangan jalan, di perempatan atau pun pertigaan, di sembarang tempat, siang maupun malam seolah tak henti-hetinya dan tak bosan membicarakannya.

Minggu, 20 November 2016

Terjebak di Jalan Berlumpur

Cerpen Otang K.Baddy (Lampung Post 27 Oktober 2013)

       Sejak sebelum tiga dekade ini tak sedikitpun terbersit jika kehidupan kami semua bisa terperangkap di jalanan berlumpur. Yang tak cuma sekedar kotor, basah dan lembab,tapi kadang gelap dan dingin. Menggigil dan bulu-bulu pun merinding.
       Mungkin sebelum tiga dasawarsa itu kami belum dewasa, sehingga segala langkah perjalanan hidup senantiasa diasuh oleh ibu. Tidur dan bangun selalu dikawal ibu. Tidur ditidurkan, bangun dibangunkan. Mandi dimandikan, makan disuapkan. Bermain dan bepergian senantiasa dikawal. Jadi segalanya terjamin selamat.

Minggu, 24 Juli 2016

Sebuah Nama


Cerpen Otang K.Baddy (Tribun Jabar 24 Juli 2016)

     
       Lelaki itu seperti kerja berat, semisal tengah memecah batu kali. Keringatnya bercucuran. Padahal apa yang tengah dilakukanya itu disebut pekerjaan biasa pun kurang pas. Apalagi jika harus memerlukan tenaga ekstra kuat.Tak perlu sampai harus bercucur keringat. Secara umum kesannya santai, cuma nulis nama. Nama sendiri. Tapi setelah lebih dua jam ia tak juga mampu menuliskan namanya itu. "Aneh," desisnya.

Sabtu, 11 Juni 2016

Santet



      Cerpen Otang K.Baddy (Majalah Kandaga - Kantor Bahasa Provisni Banten 1 Mei 2016)


      Tiba-tiba di  rumah korban itu banyak darah, tapi di tubuh korban tak ada bekas luka, baik luka bekas senjata tajam atau gigitan taring macan. Sama sekali tak ada, sekalipun bekas tusukan jarum, Dan memang korban meninggal yang ini bukan karena dibunuh senjata tajam atau digigit taring macan, melainkan kehabisan darah setelah sebelumnya muntah-muntah. Muntah darah.

Saung Lapang



      Cerpen: Otang K.Baddy (Banjarmasin Post 5 Juni 2016)

      Areal sawah tadah hujan tepi jalan desa itu kini tampak terbengkalai. Pematang-pematang yang kokoh sebelumnya kerap dihiasi jenis kacang, timun dan tanamanya lainnya termasuk umbi kini tampak lenyap tergerus waktu. Warga tani, termasuk saya, sudah lama meninggalkan tanah garapan itu dan berpindah mengolah tanah lain di seputar Markutang, desa tercinta kami. Lahan yang sempat

Selasa, 22 Maret 2016

Suara Burung Berkoak

Cerpen Otang K.Baddy (Harian Rakyat Sultra 5 Maret 2016)




Keadaan bisa jadi berubah tanpa kita duga sebelumnya. Tak terkecuali soal Kang Marna, kakakku satu-satunya. Banyak yang menyayangkan atas sikapnya yang melenceng dari harapan ayah dan juga masyarakat dusun Barkah sebelumnya.
       “Dengan ketekunan Sumarna nimba ilmu di pesantren, diharap kelak dapat mewariskan ilmunya pada anak-anak kita,” begitu diantaranya harapan

Senin, 07 Maret 2016

Tikus Margarong

Cerpen Otang K.Baddy (Pikiran Rakyat, 14 Februari 2016)

       Semua indera mereka tiba-tiba terasah tajam. Mencium, mengendap, sebelum kemudian serentak berlari menyerbu sasaran.
       "Tangkaaap....Gebuuuk...!"
       "Bunuh........Bakaaar..!"

Minggu, 21 Februari 2016

Pencari Lidi

Cerpen: Otang K.Baddy (Suara Karya 20 Februari 2016)


        Perempuan itu kini sudah tak melihat lagi tupai berloncatan di kebun kelapa miliknya. Semua itu bukan karena rabun di matanya, melainkan hewan serupa tikus yang kerap bersuara 'cidotdot. cisotdot' di pelapah kelapa itu memang kini telah musnah. Habis kikis diburu orang bak serangan perang. Sebab di jaman serba rakus ini sudah tak lagi hewan ditabukan, semua bak santapan gurih yang bikin ketagihan. Ya, ya, persoalannya bukan itu.. Sebenarnya kebun kelapa yang kerap

Rabu, 03 Februari 2016

Kesetiaan Menggila

Cerpen Otang K Baddy  Sumatera Ekspres, 3 Juni 2012 

SEORANG temanku -- yang mungkin telah lama menggila, menyebutku seorang bangkai manusia yang bergentayangan. Tiada jalan lain, untuk mengembalikan sejatinya hidup agar aku menjadi gila atau paling tidak sesekali menjadi orang gila. Harus berani jalan-jalan di sembarang tempat, misalnya di pasar-pasar, tempat perbelanjaan, kantor-kantor intansi pemerintahan, dll, termasuk kalau memungkinkan di tempat peribadatan.

Popular Posts

Blogroll