Minggu, 26 November 2017

Menulis Pun Perlu Menjaga Stamina

Menulis perlu menjaga stamina, tentu saja.  Karenanya santai saja. Itu prinsif saya. Yang penting menulis dan menulis. Menulis apa yang ketahui menurut kemampuan yang dimiliki. Menulis dan membaca dan menulis lagi dan baca lagi. Sementara lupakan tujuan ingin menjadi terkenal, cukup saja hasrat menulis diterima sebagai kenikmatan tersendiri yang tiada bandingnya di luar tidak menulis sama sekali.


Menulis perlu menjaga stamina. Betapa tidak, buat apa menulis banyak, berkarya banyak jika badan tak sehat. Tapi kebanyakan penulis pada umumnya merasa sehat, merasa tak berpenyakit karena menulis merupakan kreativitas yang malah bikin sehat. Alasannya dengan menulis segala tekanan, baik tekanan luar maupun dalam diri semuanya bisa tertuang ke dalam bentuk tulis. Mungkin dalam arti segala beban yang menimpa dalam hidup tak sampai menggerogot isi badan. Pilihan ini memang bagus.

Yang tak diperbolehkan nulis sampai tak memerdulikan kesehatan. Biasanya yang begini masuk dalam kategori kejar target, kejar tayang. Sehingga keberhasilannya berakhir dengan keletihan. Berprestasi dan namanya besar namun jika tak mengindahkan statmina tubuh hasilnya tak indah. Namun baginya tak disesali karena prinsifnya tak apa usia pendek asal meninggalkan jejak. Jejak itu ialah karyanya, terlebih karya yang baik yang membuat penuisnya dikenang sepanjang masa. Mending kalau begitu. Tapi bagaimana jika karya yang dibuatnya jelek? Jangankan bisa dikenang, melainkan malah terkubur di segala zaman.

Pada pengunjung blog, tulisan ini bukanlah suatu mutiara yang dapat diraih. Sungguh tak setitik pun harapan yang dapat diambil dari postingan ini. Karenanya saya mohon maaf, toh sebenarnya tulisan ini hanyalah sekadar menghibur diriku yang tengah terpuruk dalam dunia menulis.

Demkianlah bro, salam hangat selalu


Tidak ada komentar:

Popular Posts

Blogroll