Sungguh banyak hal tak terduga, termasuk kejadian yang saya alami saat ini.
Saya katakan peristiwa yang luar biasa dalam sejarah kehidupan saya.
Baik sejak zaman tikotok dilebuan sampai masa keramik menyilaukan. Ya,
semua tak terduga.
Saat saya mendapat penghargaan dan menerima sejumlah uang, saat itu pula seseorang datang. Skenario apa ini namanya, kok muncul dalam dua sisi yang berlawanan. Antara suka-cita dan duka nestapa, di satu pihak tersanjung sementara pihak lain teraniaya.
Sejumlah uang itu saya terima sebagai penghargaan atas jasa penulisan artikel destinasi wisata. Setelah memperkenalkannya kepada publik kemudian jadi populer. Tak cuma di tingkat regional maupun nasional, melainkan tempat yang semula terisolasi dan dikenal wingit itu sampai pula ke mancanegara dan terus mendatangkan devisa.
"Karena itu, terimalah," demikian kata Kardomos, sebagai pemangku negeri di tingkat kabupaten. Ia datang bersama awak media, baik cetak, elektronik dan daring. Karuan saja saya senang. Namun Kaswijem --istri saya, malah muram. Terlebih setelah tiba-tiba seorang wanita cantik mendampingi saya. Tentu saja dalam sepintas mungkin saya bak seorang tokoh dinamis yang lebay bersama istrinya.
"Untuk sementara tahan dulu hasratmu, Mos," bisik saya pada di telinga Karmos. Tapi Karmos tak memedulikan saya, sebaliknya ia malah merunguk dan meringik.
"Jem, coba carikan cecunguk, siapa tahu hewan itu dapat menyembuhkan sakit gigi Karmos," kata saya mengelabui Kaswijem. Sementara Karmos malah meradang, mengerang, sebelum kemudian dengan teganya menampar isteri saya hingga terjatuh dari jembatan tempat perayaan kami. Tubuhnya yang langsing terhempas ke batu cadas.
Namun aneh perempuan itu tak hancur, melainkan ia terpantul dan bersalto di awang-awang. Walau tali rok yang dikenakannya tak sampai putus, namun sempat juga semua yang melihat terhenyak ketika di selangkangan sosok itu ada yang tak wajar. Kelamin perempuan itu seperti bergondal-gandil.
Akrobatik misterius itu tak pelak telah menghadirkan tepuk tangan dari ratusan pasang mata yang menyaksikan kiprah kami sebagai insan seni. Maklum di tempat ini yang namanya pengambilan gambar untuk sebuah tayangan sinema televisi terbilang baru. Dengan aneka cahaya penopang serta setting lokal malihwarni, mereka lupa kalau aktor yang mereka lihat saat ini adalah OKB, seorang bakal cerpenis yang kandas sejak awal(*)
Saat saya mendapat penghargaan dan menerima sejumlah uang, saat itu pula seseorang datang. Skenario apa ini namanya, kok muncul dalam dua sisi yang berlawanan. Antara suka-cita dan duka nestapa, di satu pihak tersanjung sementara pihak lain teraniaya.
Sejumlah uang itu saya terima sebagai penghargaan atas jasa penulisan artikel destinasi wisata. Setelah memperkenalkannya kepada publik kemudian jadi populer. Tak cuma di tingkat regional maupun nasional, melainkan tempat yang semula terisolasi dan dikenal wingit itu sampai pula ke mancanegara dan terus mendatangkan devisa.
"Karena itu, terimalah," demikian kata Kardomos, sebagai pemangku negeri di tingkat kabupaten. Ia datang bersama awak media, baik cetak, elektronik dan daring. Karuan saja saya senang. Namun Kaswijem --istri saya, malah muram. Terlebih setelah tiba-tiba seorang wanita cantik mendampingi saya. Tentu saja dalam sepintas mungkin saya bak seorang tokoh dinamis yang lebay bersama istrinya.
"Untuk sementara tahan dulu hasratmu, Mos," bisik saya pada di telinga Karmos. Tapi Karmos tak memedulikan saya, sebaliknya ia malah merunguk dan meringik.
"Jem, coba carikan cecunguk, siapa tahu hewan itu dapat menyembuhkan sakit gigi Karmos," kata saya mengelabui Kaswijem. Sementara Karmos malah meradang, mengerang, sebelum kemudian dengan teganya menampar isteri saya hingga terjatuh dari jembatan tempat perayaan kami. Tubuhnya yang langsing terhempas ke batu cadas.
Namun aneh perempuan itu tak hancur, melainkan ia terpantul dan bersalto di awang-awang. Walau tali rok yang dikenakannya tak sampai putus, namun sempat juga semua yang melihat terhenyak ketika di selangkangan sosok itu ada yang tak wajar. Kelamin perempuan itu seperti bergondal-gandil.
Akrobatik misterius itu tak pelak telah menghadirkan tepuk tangan dari ratusan pasang mata yang menyaksikan kiprah kami sebagai insan seni. Maklum di tempat ini yang namanya pengambilan gambar untuk sebuah tayangan sinema televisi terbilang baru. Dengan aneka cahaya penopang serta setting lokal malihwarni, mereka lupa kalau aktor yang mereka lihat saat ini adalah OKB, seorang bakal cerpenis yang kandas sejak awal(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar